Nilai residu adalah sebuah metode cara menghitung penurunan nilai pada sebuah aset yang dimiliki oleh suatu perusahaan.

Perhitungan nilai residu umumnya dilakukan, untuk membantu mengetahui adanya penyusutan aset tetap dan nilai dalam aset tersebut sudah tidak lagi memiliki manfaat.

Setiap barang atau aset yang sudah dipergunakan oleh sebuah perusahaan, pasti akan mengalami penurunan nilai, Sehingga perusahaan dapat menghentikan penggunaan aset tersebut atau menjualnya.

Cara menentukan nilai residu

1. Penyusutan Garis Lurus

Metode pertama merupakan metode yang paling sering digunakan untuk menemukan biaya penyusutan karena dianggap paling sederhana dan mudah. Metode ini difokuskan pada penyusutan sebagai suatu fungsi dari waktu, bukan penggunaannya. Dibutuhkan salvage dalam proses penghitungannya. Untuk rumusnya sendiri adalah:

Penyusutan= Harga perolehan – Nilai residu : Usia ekonomis

Rumus di atas dapat berarti, untuk mencari nilai penyusutan, maka bisa dicari cari dari harga perolehan yang dikurangi dengan nilai residu, kemudian dibagi usia ekonomis pada suatu aktiva tetap. Tidak heran apabila salvage value berkaitan erat dengan biaya penyusutan pada suatu aktiva tetap.

Contoh:

Pada 11 Agustus 2018, PT. Bambang Surya membeli mesin produksi seharga Rp200.000.000. Perkiraan usia aktif penggunaan/usia ekonomisnya selama 5 tahun dengan nilai residu sekitar Rp40.000.000. Lalu, berapa nilai penyusutannya?

Penyusutan= (Harga perolehan – nilai residu) : usia ekonomis

(Rp200.000.000 – Rp40.000.000) : 5 tahun

Rp160.000.000 : 5 tahun = Rp32.000.000

Berdasarkan hasil di atas, maka nilai penyusutan dari mesin produksi tersebut sebesar Rp32.000.000/tahun. Nilai residu, umumnya memang sudah tertulis dengan jelas pada tiap penghitungan biaya penyusutan.

2. Metode Penyusutan Jumlah Angka Tahun

Metode yang satu ini akan terlihat bahwa nilai penyusutan akan terus berkurang setiap tahunnya. Rumus dari metode penyusutan jumlah angka tahun (Sum of Years Digit Method) adalah:

Penyusutan = sisa usia penggunaan : jumlah angka tahun x harga perolehan – nilai residu.

3. Metode Penyusutan Satuan Jam Kerja

Selain 2 metode di atas, ada pula metode lain, yakni metode penyusutan satuan jam kerja. Metode ini berkaitan dengan harga perolehannya.

Rumusnya: Tarif penyusutan per jam = harga perolehan – nilai residu + total jumlah jam kerja pada penggunaan aktiva tetap.

Berdasarkan rumus ini, maka nilai residu akan memengaruhi besarnya nilai penyusutan karena hal tersebut dapat memengaruhi salah satu variabel di dalamnya.

4. Metode Hasil Produksi

Metode terakhir adalah metode hasil produksi. Pada metode ini, beban biaya penyusutan pada aktiva tetap akan diketahui berdasarkan pada jumlah satuan produk yang bisa dihasilkan dalam kurun waktu terkait. Beban depresiasi akan dihitung berdasarkan nilai satuan hasil produksi. Dengan begitu, nilai depresiasi dari tiap periode akan selalu berubah sesuai dengan fluktuasi hasil produksi.

Rumusnya: Tarif penyusutan per satuan produk = harga perolehan – nilai residu : jumlah total produk yang mampu dihasilkan.

Dengan menggunakan rumus ini, maka nilai residu akan erat kaitanya dengan harga perolehan.

Itu tadi penjelasan tentang cara menentukan nilai residu yang perlu Anda pahami. Meski tidak semua aktiva tetap memiliki residu, akan tetapi variabel ini cukup berperan dalam dunia akuntansi. Terlebih dalam hal pembuatan laporan keuangan perusahaan Anda.